Minggu, 16 Oktober 2011

Simalakama Untuk Bapak

Rapat-rapat kalimat itu menggelitik, tikaman kata yang membatin beberapa bulan lalu, jika pilihannya memakan Bapak meninggal, tidak memakan berarti Ibu wafat, dan aku lebih memilih melahap buah itu, hingga habis tak tersisa.
Hatiku benar-benar telah hilang, pergi bersama bayangan keranda yang baru saja melintas. Riuh rendah suara tahlil seakan semakin munusuk dan mengiris-ngiris seisi raga,…aku hanya bisa diam terpaku. Menangispun merasa tak berhak, kemarau seketika menguasai pelupuk mata, kering. Langit sekejap berubah menjadi gelap, segalanya seolah terasa percuma.
*
Sangat berat pada awalnya, aku…seorang remaja laki-laki yang setahun lalu baru saja menggantung seragam putih abu-abu harus berbesar hati menggantikan pekerjaan Ibu rumah tangga, memasak, membersihkan rumah juga merawat Ibu. Satu tahun yang lalu, kesehatan Ibu mulai menurun. Tanpa kami sadari, ternyata Ibu menderita kanker tulang. Serangkaian perawatan medis dilakukan, namun tetap tak kunjung pulih, melainkan kian mengkhawatirkan. Jangankan untuk duduk atau berjalan, bergeser saat tidurpun sudah membuatnya sangat kesakitan.  Beberapa pembantu yang pernah kami pekerjakan berhenti tanpa alasan jelas, tidak ada satupun mampu bertahan lebih dari satu bulan. .
                Tentu aku tidak akan bersumpah serapah seperti itu andai saja Bapak masih waras, tidak menjadi gila begini, ya…aku menyebutnya gila, karena hanya kenikmatan duniawi yang dipikirkannya, alam sadarnya telah dikuasai oleh setan berbagai wujud.
Bapak adalah seorang karyawan perusahaan swasta yang memiliki hobi bisnis sebagai makelar tanah, tak jarang karena bisnisnya itu Bapak sering keluar kota untuk melihat lokasi tanah yang akan dijual. Boleh dibilang, bisnisnya itulah yang menjadi pekerjaan utama, dan pekerjaannya sebagai staf marketing malah menjadi job sampingan. Entah apa yang menjadi alasan Bapak untuk menjelaskan terlalu sering absenannya di kantor. Tak terhitung sudah berapa ratus kali aku dan Ibu mengingatkan, namun Bapak selalu berkilah kalau semua yang dilakukannya demi tambahan biaya hidup dan pengobatan Ibu. Kuputuskan untuk tidak ambil pusing saja dengan tingkahnya itu. Hanya bermain dengan simalakama.
*
Waktu berjalan tertatih, terseok-seok, seakan menertawakan nasibku, dalam keadaan seperti itu aku mulai terbiasa dengan ritme hidup yang baru. Pun ketika lagi-lagi sikap Bapak membuatku makin muak. Setelah hampir satu bulan menghilang, Bapak datang dengan berita yang membuat emosiku teraduk. Perasaanku sudah tidak enak saat Bapak mengajakku berbicara di halaman belakang, dan semua terjawab beberapa menit kemudian. Bapak menikah lagi, tanpa sepengetahuan Ibu.
“Maafkan Bapak Bagas, Bapak harap kamu mengerti atas keputusan Bapak ini”, hatiku panas, kutatap mata Bapak tajam, aku ingin dia membaca arti dari sikapku ini.
“Bapak tau, mungkin kamu masih belum bisa terima, tapi demi tuhan Bapak melakukan ini semata-mata hanya ingin menghindari fitnah, sungguh”.
“Tutup mulut busuk Bapak itu….Bapak benar-benar tidak bisa menjadi teladan bagi aku dan Bagus, apa yang harus aku mengerti?, sekarang aku tanya : apakah Bapak mengerti dan paham dengan penderitaan batin yang selama ini aku dan Bagus rasakan?, apakah Bapak tau kalau selama ini kami merindukan perhatian dan bimbingan seorang Bapak?, dan apakah Bapak sadar kalau aku rela mengorbankan masa remajaku demi mengurus Ibu dan adik, yang seharusnya menjadi tanggung jawab Bapak?, kalau alasan Bapak adalah mencari penghasilan tambahan, sekarang mana? mana uang itu?, sepeserpun kami tidak pernah mencicipi hasil bisnis Bapak itu, selama ini kami hidup dari tabungan pesangon Ibu, apakah Bapak tau itu? tau tidak?”. Suaraku semakin meninggi dan menggelegar, panjang lebar aku muntahkan semua kekecewaan yang selama ini kupendam, Bapak hanya menunduk, kalau saja Bagus tidak menangis dan menarik tanganku, sudah habis orang tua itu aku hajar.
                Peristiwa sore itu merubah segalanya, Bapak hanya sesekali datang kerumah, malam selepas maghrib datang, pagi buta sudah pergi lagi. Atau kadang siang pulang kerja muncul dan kembali menghilang menjelang tengah malam ketika Ibu sudah tertidur. Beruntung Bagus tidak pernah menceritakan pertengkaranku dengan Bapak kala itu pada Ibu. Namun, tetap saja Ibu tak pernah bosan bertanya Bapak pergi kemana, kujawab saja sekenanya sembari berusaha menyembunyikan amarah yang berkecamuk..  
*
Suasanan jalan masih basah kuyup karena hujan semalam, menyatu dengan hembusan angin pagi yang dingin menyergap. Sepertinya pagi ini matahari agak malu-malu memancarkan sinarnya. Berat rasanya meninggalkan Ibu sendirian di rumah seperti ini, tapi hari ini adalah hari pertamaku kerja paruh waktu. Menjadi kasir di salah satu restoran milik saudara kawan lama. Bersyukur  pemilik restoran mengerti dengan statusku sebagai mahasiswa, dan memberi kebebasan untuk menyesuaikan jam masuk kerja, hari ini aku masuk pagi karena kuliah dimulai agak siang..
“Bagas berangkat kerja dulu ya bu”, aku berpamitan, setelah mengelap dan membersihkan badan Ibu
“Mas….”
“Ya….”, aku menoleh sebentar sambil memakai kaos kaki, pandangan Ibu menerawang ke langit-langit, kemudian menatapku lama.
“Tabungan kita masih ada?, cukup tidak untuk beli sepatu baru buat Bagus?”, aku tersenyum sambil mencium tangan Ibu
“InsyaAllah besok Bagas ajak adek beli ya”
*
Tak sampai satu jam, Bagus sudah menenteng sepatu impian, sudah lama dia menginginkannya, tak heran saat kuajak memilih, hanya perlu waktu semenit untuk menggerakkan telunjuk. Kami berjalan beriringan keluar dari toko, langkahku terhenti saat aku merasa tidak ada tanggapan dari Bagus yang dari tadi aku ajak ngobrol, kulirik wajahnya, Astaqfirullah. Bagus menatap sebuah restoran cepat saji hingga tak berkedip. Tanpa pikir panjang, segera kutarik tangannya untuk masuk. Kami makan siang dengan lahap, senang sekali rasanya melihat mata kecil itu berbinar,
“Mas….”
“Hemmm”
“Apakah berdosa jika seorang anak mengingatkan orang tuanya untuk beribadah?”
“Maksud Bagus?”, darahku berdesir mendengar pertanyaan Bagus
“Belakangan ini Bagus sedih sekali melihat Bapak, bukan karena Bapak sudah tidak menyayangi kita lagi, melainkan karena Bapak sudah tidak menyayangi dirinya sendiri. Beberapa kali Bagus melihat Bapak tidak sholat, Bagus pikir waktu itu Bapak lupa, ketika Bagus ingatkan, Bapak malah marah-marah. Katanya, ini urusan Bapak, Bagus masih kecil, ga usah minteri orang tua”, lidahku tiba-tiba membeku, aku tak kuasa menggerakkannya, sepertinya aku telah melewatkan satu episode penting di rumah.
“Satu lagi mas, Bagus juga sering dengar Bapak menelpon temannya dan membicarakan jual beli barang-barang sakti gitu, katanya harganya bisa bermilyar-milyar, apa memang ada barang seperti itu mas?”, aku berusaha berdamai dengan hati. Namun tiba-tiba badanku menggigil. Aku harus berbuat sesuatu, bukan hanya bermain dengan simalakama.
Setiap kali Bapak di rumah, kuusahakan sesering mungkin mengajak Bagus dan Ibu sholat berjamaah dan mengaji bersama, begitu pula dengan tontonan di TV, kuintruksikan Bagus untuk selalu menyetel acara-acara religi. Harapanku cuma satu, semoga Bapak segera menyadari kekhilafannya tanpa diingatkan secara langsung. Terkadang seseorang terpeleset bukan karena bodoh tapi karena dikuasai akalnya saja.
*
Kejadian itu akhirnya kusaksikan langsung, sepuluh menit sebelum sholat Jum’at dimulai, Bapak bergegas meninggalkan rumah setelah menerima telepon, sekilas kudengar sebuah kalimat dari ponsel yang sengaja di loudspeaker, “Barang hebat ini pak Suryo, keris antik, bisa memberikan kekebalan dan kekuatan bagi pemiliknya, konon banyak para pejabat yang mengincar. Saya percayalah pak Suryo pasti bisa menjualnya dengan harga tinggi, jangan khawatir, komisinya juga tinggi pak, hahahaha…”, astaqfirullah, Bapak benar-benar telah lupa, melupakan kalau amal sholat lah yang akan dihisap pertama kali kelak di akhirat, bukan yang lain. Bapak juga seakan tidak mengerti bahwa mempercayai suatu takdir yang bukan berasal dariNya adalah perbuatan syirik, dan itu adalah dosa paling besar.
Seminggu setelah jum’at siang itu, sekuat tenaga aku mencoba mendamaikan amarahku pada Bapak, kuputuskan untuk mengingatkan Bapak melalui sms saja. Tidak pernah ada balasan setiap kali pesan-pesan itu kukirim, aku hanya bisa menebak-nebak reaksi Bapak, mungkin saja Bapak terharu atau mungkin malah sebaliknya. Terkadang ada sedikit kekhawatiran yang melintas tiba-tiba, karena beberapa minggu selanjutnya, Bapak tidak lagi menampakkan wajahnya.
*
Siang ini aku berangkat ke kampus dengan perasaan tidak tenang, sejak tadi malam kesehatan Ibu menurun drastis, aku mengerti, Ibu pasti tidak hanya letih fisik tapi juga pikiran, perubahan pribadi Bapak pun keprihatinan aku dan Bagus. Berkali-kali ibu meminta maaf padaku sambil berurai air mata. Aku mencoba meyakinkan Ibu, kalau semuanya akan baik-baik saja.
Ditengah jam kuliah, menjelang waktu istirahat, ponselku berdering tak karuan, terpampang nomer Bapak disana, tidak seperti biasanya, jangankan menelpon, sms pun tidak pernah. Kuputuskan untuk mengabaikannya. Benar saja….ponselku kembali tergeletak lesu dalam tas, tak ubahnya kehabisan tenaga untuk berteriak lagi.
Selepas sholat ashar, kulirik ponselku, aku masih malas membalas telpon Bapak, aku menduga bahwa isi telpon itu adalah Bapak ingin meminta maaf dan mengaku khilaf. Aku berpikir sejenak, kalau memang seperti itu, kenapa hatiku tidak kunjung tenang, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ibu?. Mungkinkah rangkaian emosiku kala itu, simalakama yang kusumpahkan membalikkannya, seperti kata teman-teman masa kecil dulu, kalau kamu mimpi atau mengharapkan diterima di sekolah favorit, maka yang terjadi adalah kebalikannya, kamu diterima di sekolah pilihan kedua. Begitu juga kalau kamu mimpi menemukan uang, besoknya kamu pasti akan kehilangan. Segera kubuang jauh-jauh pikiran konyol itu dan bergegas memanggil kembali ke ponsel Bapak, lama tidak ada jawaban, membuat perasaanku kian tak karuan, hingga akhirnya terdengar isak tangis Bagus…
“Halo….halo….Bagus….”
“Mas Bagas…Bapak mas….”
*
Ternyata aku terlalu sederhana memandang hidup, bagaimana bisa aku tidak mengetahui penyakit jantung yang diderita Bapak beberapa tahun ini. Dan Bapak berhasil mempermalukanku dengan menjadikan pengorbanannya sebagai tanda permintaan maaf. Bapak menutup usia setelah nekat menyumbangkan darah saat Ibu kritis dan harus di operasi, tak ada yang mengetahui pasti runtutan kejadiannya….aku, Bagus dan juga tetangga-tetanggaku.
Mataku melayang-layang tak tentu arah, pikiranku terempas tak berdaya, terbawa arus entah kemana. Kembali kupandangi amplop coklat besar yang baru saja kuterima dari seorang notaris, dia mengaku ditunjuk Bapak untuk membuat surat wasiat. Sebuah surat tanah, sertifikat rumah, dan sejumlah tabungan bertuliskan atas namaku dan Bagus. Di sinilah aku merasa bahwa waktu tak berpihak padaku. Aku terlambat menyadarinya dan keterlambatan itu menciptakan percik-percik penyesalan yang melanda tak kenal waktu. Ya Allah ya tuhanku, izinkan aku berbicara dari hati nurani yang paling dalam, jangan biarkan batinkan bermain-main sumpah serapah, apalagi dengan simalakama. Kulipat kembali surat Bapak yang mulai basah oleh airmata.

Assalamualaikum wr wb, Bagas dan Bagus anakku,

Sengaja Bapak kumpulkan ini semua hanya untuk kalian berdua, Bapak tidak tau seperti apa dan bagaimana proses meninggalnya Bapak nanti, dengan penyakit Bapak ini, Bapak yakin waktu itu tidak akan lama lagi. Dan Bapak berharap Bapak bisa melihat kalian disaat-saat terakhir itu. Maafkan semua kekhilafan Bapak. Beberapa minggu ini, Bapak sengaja menghilang untuk kembali menata hati, alhamdulilah cahaya itu kembali Bapak temukan. Islam telah menyelamatkan Bapak dari kemungkaran. Dan semua itu berkat kalian, terimakasih anak-anakku.
 Semoga Bapak bisa meninggal dengan cara Khusnul Khotimah, amiin.
Bapak sayang kalian,  juga Ibu.

Penting : Semua tabungan ini, insyaAllah Bapak dapatkan dari jalan yang halal.
Wassalamualaikum wr wb

                                                                                                                                                                Bapak
                                                                                                                                                    Suryo Prabowo

(Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen Remaja Islam yang diadakan DKM Remaja Islam Masjid Al-Muhajjirin Kota Serang )

0 komentar:

Posting Komentar