Jika ada yang bertanya, apakah aku ingin mengulang masa kecilku?, akan segera kujawab tidak, ya…tidak ada yang istimewa dengan masa kecilku. Aku terlahir sebagai anak ke empat dari lima bersaudara di sebuah keluarga sederhana. Kehidupan serba pas-pasan inilah yang senantiasa mewarnai pikiranku, hingga kini. Masih tertata apik dalam kenangan bagaimana aku selalu mendapat jatah baju lungsuran dari kakak perempuan demi menghemat pengeluaran. Dengan dicekoki berbagai dalil, aku dipaksa untuk mengerti. Dan aku mengerti, sangat mengerti.
Satu lagi, kisah yang kadang membuatku tersenyum perih ketika mengingatnya. Suatu sore, saat umurku belum genap sepuluh tahun, aku sangat ingin makan bakso yang biasa lewat di depan rumah, ibuku mengangguk pertanda menyanggupi, namun tak kusangka, adikku juga merengek meminta. Ibu hanya bisa menatapku nanar, dan lagi lagi aku dipaksa untuk memahami, dan aku sangat memahami. Pikirku, bukanlah masalah tak jadi makan bakso, karena ternyata adikku masih berbaik hati menyisakan kuahnya, bagiku itu sudah lebih dari cukup. Dengan secentong nasi, aku makan dengan lahap.
Tapi aku sedang tak ingin bercerita tentang ini.
***
Hanya teringat si bungsu…
Kala itu, seperti biasa, jam 21.00 malam, aku bersiap untuk tidur. Malam mulai merangkai mimpi sebelum tiba-tiba aku terbangun dengan megap-megap. Segera kubangunkan Dewi, teman satu kamar kos waktu SMA, kutanyakan apakah dia mendengar suara benda besar jatuh, Dewi menggeleng pelan sembari berkata “mungkin kau mimpi, kawan”.
Keesokan harinya, baru kutau kalau adikku kecelakan. Diserempet motor saat hendak menyeberang dan tertarik tak kurang dari 10 meter, tulang kering kaki kirinya patah, mengharuskannya dirawat di RS Al-Irsyad Surabaya.
Apakah mungkin, suara benda besar jatuh yang kudengar semalam adalah kecelakaan itu?, mengingat waktu kejadiannya tak jauh berbeda. Inikah yang namanya ikatan batin seorang saudara?. Aku menangis tersedu begitu menyadarinya.
Kecelakaan itu membuat adikku tak bisa sekolah sampai benar-benar mampu berjalan.
Satu bulan pertama, dia hanya bisa berbaring di kasur. Bulan selanjutnya, dia mulai belajar memakai tongkat. Kulit hitamnya berubah menjadi putih, badannya gembul seperti anak orang kota, pun rambutnya, lebat dan hitam.
***
12 tahun kemudian..........
Adikku tumbuh menjadi seorang pemuda yang ’unik’, hehehe.... Sudah banyak korban tertipu dengan penampakan luarnya itu.
Eits......tapi tunggu dulu, dibalik segala keunikannya, telah banyak prestasi yang membanggakan, paling tidak bagi kami kakak-kakaknya. Siapa akan menduga, kalau seorang Toni yang masa kecilnya sering dihabiskan di rumah dengan bermain PS, membuat kami menyebutnya si jago kandang, kini membuktikan bahwa semua tuduhan itu adalah salah. Siapa akan menyangka, seorang Toni yang kadang agak lama merespon obrolan, karena multi tasking yang coba diterapkannya, kini juga mampu menjadi teladan bagi ponakan-ponakannya. ^_^.
***
Sepenggal cerita tidak istimewa, namun sangat disayangkan jika dilupakan begitu saja.
’Selamat Ulang Tahun ya Toni, seperti ucapan Toni waktu itu, harapan mbak juga sama : Semoga Allah memegangmu erat, Malaikat menjagamu ketat, tidak hanya membuatmu baik tapi juga supaya kamu mendapatkan yang terbaik dalam hidup. Amiin.
Shofatullailaheva, 261111-07.14
0 komentar:
Posting Komentar