Tarrh….tarhhhh…..Tarhhh…..gemuruh suara petasan memecah keheningan masjid, bersahut-sahutan tanpa henti. Seperti jamaah sholat tarawih lainnya, konsentrasiku buyar seketika, dalam hati aku hanya bisa memohon semoga dosa-dosaku terampuni.
Jarum jam menunjukkan angka 20.48 WIB saat aku menyelesaikan ayat terakhir tadarrus malam ini. Dari kejauhan sayup-sayup kudengar lantunan kitab suci Al-qur’an lewat pengeras suara masjid. Layaknya ramadhan-ramadhan sebelumnya, langit di kompleks ini selalu dipenuhi dengan kalimah penuh makna dari firmanNya. Begitu sendu dan mendayu. Kerinduanku serasa terobati. Segera kuseka butir-butir bening yang mulai menggenangi ekor mata.
“Assalamualaikum, Ais sudah tidur? Boleh ibu masuk?”
“Ais ga papa?”, sekilas kulihat kecemasan di wajah ibu
“Ais ga papa kok bu, ibu ga usah khawatir”, seperti biasa, ibu hanya tersenyum dan mengelus rambutku lembut, namun itu sudah cukup mampu meredam rasa ketidakikhlasan yang melanda tiba-tiba, selalu mendinginkan bara amarah yang mulai mengamuk, dan juga mengubur penyesalan yang menyergap tak kenal waktu.
***
Pagi ini kuawali hari dengan berat hati. Pikiran tentang anggapan miring para tetangga memenuhi alam sadarku. Semua orang sudah tau, gosip terbaru kompleks ini. Begitu berartinya setiap kisah tentangku. sampai-sampai tak pernah habis dibahas para ibu-ibu pada momen belanja bersama dipagi hari, tak lupa juga kompor yang disulut oleh si tukang sayur, yang secara tidak langsung didaulat pelanggan-pelanggannya sebagai spy alias mata-mata alias pencari berita, membuat hawa pagi yang seharusnya sejuk menjadi hot, panas sekali. Mereka seakan lupa kalau perbuatannya akan mendatangkan kesia-siaan amal puasa yang sedang dijalani.
Dari balik tirai jendela, kulihat “talk show” sudah dimulai. Aku menghela nafas panjang, mencoba memantapkan diri. Tanpa pikir panjang lagi, aku melangkah mendekati tempat mang Adi, si tukang sayur mangkal. Di kejauhan, tampak beberapa ibu menghentikan obrolannya begitu melihat kedatanganku.
“Assalamualaikum ibu-ibu, mang Adi”, aku menyapa seperti tidak terjadi apa-apa
“Waalaikumussalam, eh…ada neng Ais. Gimana kuliahnya?, jadinya ngelanjut kemana?”, Ibu Asri, tetangga sebelah kanan rumahku menyapa dengan santun
“Alhamdulilah bu, saya dapat beasiswa dari pemerintah jepang untuk melanjutkan kuliah disana, kebetulan awal semester baru dimulai pertengahan september, jadi Ramadhan kali ini bisa full di rumah”
“Fakultas apa neng Ais…”, kembali ibu Asri bertanya, satu-satunya ibu yang antusias mendengar keberhasilan studiku
“Ekonomi & bisnis bu…..”, belum sempat kuselesaikan kata-kataku, tiba-tiba ibu Ratih menimpali dengan sengit
“O pantas…..”
“Maksud bu Ratih ?”
“Maksud ibu pantas di terima di fakultas itu, wong jiwa bisnisnya udah keliatan. Tapi hati-hati lo neng Ais, jangan sampai bisnisnya itu merugikan orang lain, neng Ais kan anaknya imam masjid, berilah teladan yang lebih baik, neng Ais pasti ngertilah maksud ibu, hi..hi…hi….”, sudah kuduga kalimat-kalimat seperti itu pasti akan kudengar juga. Secepat kilat kuredam kekagetanku, kuperhatikan wanita-wanita paruh baya yang masih cekikikan di hadapanku, sembari berkata
“Maksud bu Ratih, karena saya berjualan petasan?, hmmmm”, aku terdiam sejenak sebelum melanjutkan
“Penjual pisau tidak mungkin punya tujuan menyuruh pembelinya untuk bunuh diri, penjual terompet tidak mungkin berniatan agar para pelanggan meniupkannya disaat orang-orang tidur, begitu pula dengan saya, saya tidak mungkin memerintahkan mereka menyalakannya disaat orang lain sedang beribadah. Saat ini saya tidak bisa menjelaskan lebih panjang, yang jelas saya melakukan ini demi memperoleh ridho Allah semata, mudah-mudahan suatu saat mang Adi dan juga ibu-ibu mengerti, saya permisi dulu, assalamualaikum”, tak ada jawaban, semua seakan terbius dengan kata-kataku, mencoba menerka-nerka maknanya, termasuk bu Ratih, tanda tanya besar seperti memenuhi benaknya. Sedangkan Mang Adi, yang selalu bersemangat ketika ada gosip baru karena bisa dijadikannya sebagai umpan untuk memancing para pembeli hanya menunduk dan manggut-manggut, entah mengerti entah tidak.
***
Belum sempat kami habiskan kolak pisang di mangkok saat buka puasa, tiba-tiba bu Asri datang dengan tergopoh-gopoh
“Pak haji….pak haji, neng Ais, assalamualaikum…”, aku, bapak dan ibu segera datang menghampiri
“Waalaikum salam bu Asri, ini ada apa, kok maghrib-maghrib kesini?”
“Gawat pak haji, bagaimana ini….Anaknya bu Ratih yang nomer tiga tangannya hampir putus kena petasan, bu Ratih ngamuk-ngamuk di ujung gang, dia marah-marah dan nyumpah-nyumpahin neng Ais”, aku terperanjat mendengar penjelasan bu Asri, dalam sekejap badanku gemetar dan menggigil, pundakku seperti ditindih batu ratusan kilo, ibu segera menangkap badanku, mengingatkan untuk beristiqhfar, astaqfirullahal adzim. Dalam hati aku merasa sangat heran, kenapa hanya aku yang menjadi tertuduh padahal masih ada beberapa pedagang petasan lain di kompleks ini, belum tentu petasan yang telah menelan korban itu adalah daganganku.
Malam ini bulan tak lagi penuh, hanya sepotong, seperti kehilangan gairah untuk memancarkan cahayanya. Usai sholat tarawih, bapak memanggilku ke teras rumah, kami duduk bertiga menghadap jalan raya. Tidak ada obrolan, hening, hanya desahan nafas ibu yang terdengar sesekali. Kupandangi paviliun kecil di depan rumah yang dibangun bapak sebagai tempat usaha sampingan sekaligus pengobat kebosanan ibu ketika sendirian, sepi, tidak ada keramaian seperti malam-malam sebelumnya.
“Memang terkadang jiwa manusia bisa tandus jika tidak ada air yang dapat membasahi pikiran yang sedang keruh”, bapak memecah keheningan sambil menatapku, mataku kembali panas dan berlinang
“Yang Ais pikirkan saat ini adalah bapak dan ibu”
“InsyaAllah kebenaran akan datang nak”
“Amiin”, serempak aku dan bapak mengamini kata-kata ibu
Sejak peristiwa itu, bapak nyaris tidak pernah menjadi imam sholat di masjid lagi, bapak merasa tidak enak hati memimpin ibadah sementara sebagian dari makmum sudah tidak mempercayainya, karena itu bapak mengundurkan diri, tepatnya dipaksa mundur. Namun, entah kenapa keadaan seperti ini lebih membuat hati kami tenang. Tidak ada beban.
***
Gema takbir terdengar dari kejauhan, aku sibuk membantu ibu di dapur, menyiapkan makanan untuk esok hari. Gerakan tangan kami terhenti tatkala mendengar isak tangis dari ruang tamu, kami bergegas menuju arah tangisan. Begitu sampai, kulihat bu Ratih duduk terpekur dilantai bersama Nita, dibelakangnya berdiri Pak Alimuddin, ketua takmir masjid
“Sebelumnya saya minta maaf atas sikap kami kepada pak haji dan keluarga”, pak Alimuddin memulai obrolan, masih dengan iringan isakan dari bu Ratih dan Nita, bapak tidak bereaksi apa-apa. Hanya terdiam.
“Saya sudah mendengar semuanya dari Nita. Karena itu saya mewakili warga disini meminta kesediaan pak haji kembali menjadi imam pada sholat idul fitri besok”, kulihat Bapak tersenyum terharu yang kemudian diikuti dengan sebuah anggukan. Melihatnya seakan membuatku tersadar. Tidak ada yang aku sesali dengan takdir yang sudah ditetapkanNya atas hidup ini, satupun tidak. Sesungguhnya Engkau telah mengajarkan kepada kami satu lagi ilmu maha berharga di bulan suci ini, sebagai bekal untuk kehidupan selanjutnya.
***
Satu minggu sebelum bulan Ramadhan
Pagi-pagi buta, Nita, kakak kelasku waktu SD datang kerumah, dengan ragu dia mengutarakan maksud dan tujuannya
“Saya mau meminta bantuan pak haji, ibu haji dan Ais. Dua bulan lagi saya butuh uang agak banyak untuk membayar uang semester kuliah, dan juga persiapan adik untuk masuk SMP”, Nita diam sejenak kemudian meneruskan kalimatnya dengan lebih mantap
“Saya bermaksud untuk menitipkan dagangan saya di warung bu haji, mudah-mudahan bisa menambah penghasilan saya”. Tanpa pikir panjang, ibu mengiyakan
“Nita mau nitip apa?”
“Petasan bu….pada bulan puasa petasan sangat laku”, ibu sangat kaget mendengarnya
“Kenapa bukan takjil saja Nita?”
“Saya tidak sempat memasaknya bu, pulang kuliah saya harus bekerja setengah hari di sebuah usaha laundry dekat kampus”. Aku, ibu, dan bapak merudingkannya sebentar. Nita adalah anak sulung bu Ratih, sejak ayahnya meninggal, Nita menjadi tulang punggung keluarga, selama ini mereka hidup dari uang pensiuanan ayahnya yang tidak seberapa, karena itu usaha apapun asalkan halal dia jalani demi mendapatkan tambahan. Dan pertimbangan ini mengalahkan kekuatiran kami terhadap resiko berjualan petasan yang akan dihadapi. Kami menyetujuinya. Sebelum berpamitan, Nita mengutarakan satu permintaan lagi, dia minta dirahasiakan kalau petasan itu adalah miliknya. Kami sedikit mengerti maksudnya, mengingat bu Ratih yang memiliki sifat gengsi agak berlebihan. Jadilah mulai hari itu, aku sebagai penjual petasan pemula.
(Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen Remaja bertema Ramadhan yang diadakan Annida Online bekerjasama dengan SMG Publishing)