Sebenarnya aku sudah terbiasa menghadapi dan melihat ponakan-ponakan yang sedang rewel. Tapi kali ini rasanya berbeda. Saat tiba di Bogor, aku disambut dengan keadaan dimana dua ponakan mungilku yang hanya berjarak 1,5 tahun sedang tidak sehat. Bukan hanya kondisi mereka yang membuatku trenyuh tapi juga sangat terharu menyaksikan secara langsung betapa besarnya perjuangan dan pengorbanan seorang ibu.
Tidak berlebihan rasanya kalau kupanggil kakak iparku dengan sebutan wonder woman. Mengorbankan kebersamaan dengan suami yang sedang melanjutkan studi di Jepang, memutuskan kembali ke Indonesia demi keberlangsungan jasmani dan rohani ketiga anaknya.
Setiap saat kusaksikan bagaimana kakak iparku harus melapangkan dada selebar-lebarnya dengan semua perilaku sang anak yang sudah diluar batas kesabaran. Kenikmatannya menyantap makanan rela dirusak ketika si nomor dua ingin pup atau pipis, kenyenyakan beristirahat rela ditukarnya demi menggendong si nomor tiga yang sedang panas dan hanya mau tidur dalam gendongan. Tidak hanya disitu, keikhlasanya juga diuji tatkala si anak pertama tak cukup diperingatkan satu kali untuk belajar disiplin dan teratur.
Senja menjelang, perjuangan belum selesai, tugas sebagai seorang guru sekaligus dokter bermula pada petang itu. Karena sering mengalami sesak saat bernafas, sebelum tidur anak nomer dua terbiasa di pijat kaki dan badannya, semuanya berjalan lancar, hingga entah apa sebabnya si anak nomer tiga menarik tangan sang mama bermaksud ingin diurut juga dengan berceloteh tak henti-henti “dua-dua ma”, maksudnya berdua atau barengan namun tidak sesuai dengan perilakunya yang menguasai semua badan si mama, tentu anak nomer dua tidak terima. Walaupun anak nomer dua telah diberi pengertian dan anak nomer tiga dimarahi, tetap saja sahut-sahutan tangisan itu terjadi. Kakak iparku hanya ber-istiqhfar. Masalah terselesaikan dengan melanjutkan pijatan pada anak nomer dua dan anak nomer tiga dalam pangkuan. Konsentrasinya juga terbagi dengan pertanyaan-pertanyaan anak pertama yang sedang mengerjakan tugas sekolah.
Aku tertegun menyaksikannya.
Hari ini aku diminta tolong kakak iparku untuk mengantarkan anak nomer dua terapi. Saat tiba di rumah sakit,kulihat keponakan mungilku itu kegerahan dan mengelap keringat. Kutawarkan untuk melepas jilbabnya, dan betapa kagetnya aku ketiga gadis cilik itu menolak dengan sekuat tenaga seolah aku akan membakar jilbabnya. Inilah satu lagi yang membuatku kagum, dari mana anak kecil berumur 3,5 tahun tau jika hendak keluar rumah harus memakai jilbab kalau bukan dari ibunya. Seakan dia paham betul kenapa dia harus melakukannya.
Inilah bukti bahwa seorang ibu rumah tangga adalah seorang wonder woman karena berbagai profesi mampu digelutinya dalam waktu bersamaan, sebagai dokter, guru, perawat, dan juga koki.
Untuk kalimat penutup kali ini, aku ingin berterimakasih pada ibuku tercinta yang telah merawatku hingga aku bisa mempunyai kehidupan berharga dan juga ibu mertuaku (almh) yang telah melahirkan suami yang hebat untukku. Terimakasih, kalian semua adalah wonder woman.
Kamis, 10 November 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar