Rabu, 07 Desember 2011

Bratasena, “Dari Sebuah Tanggal Cantik”

01 Oktober 2005

Awan hitam tampak berarak mendekati Seputih Raman, desa kecil dipedalaman Lampung. Pekat, mengaburkan semua yang terlintas di pinggir jalan, benar saja, tak sampai 10 menit, hujan lebat mengguyur, membasahi apapun yang terlihat. Taaarrrhhhh……untuk kesekian kalinya suara petir membuyarkan lamunanku, lamunan tentang keputusan maha besar yang telah kuambil. Menjejakkan kenangan tentang persinggahan sementara. Meninggalkan sahabat dan keluarga, tercecer lalu menghilang satu persatu.

Alangkah indahnya jika kita bisa memberi pita pada mimpi
Agar bagian yang terindah bisa kita pindahkan
Sampai waktu terjaga dari tidur
Disimpan dengan baik sampai suatu saat datang sebuah keajaiban
Disimpan dengan baik sampai impian terwujud dan pita itu terlepas

Kala itu mimpiku cuma satu, lulus kuliah, aku harus mandiri. Aku tak ingin menjadi beban kakak tertuaku lagi, telah banyak dukungan materiil yang diberikannya. Lebih dari cukup.

Maka, segera kuiyakan saat sejumlah gaji sebagai forelady di sebuah perusahaan budidaya dan pengolahan udang ditawarkan. Dan dalam selang waktu tak sampai seminggu, aku meninggalkan Bogor, menuju sebuah pengharapan baru, segala yang menyangkut masa depan.

*****

Betapa beratnya menghadapi sesuatu yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seperti menemukan komunitas baru disebuah negeri antah barantah. Tinggal di asrama dengan keterbatasan air bersih, ditemani berbagai jenis nyamuk yang mungkin merasa terusik dengan kehadiranku. Hanya ada TV sebagai hiburan, namun cukup membuat mata sakit saat menontonnya.

Kubunuh waktu dengan membaca buku, berdoa dan sesekali menangis.

01 November 2005

Aku masih bertahan, disini, di Bratasena. Demi orang-orang yang telah meneteskan airmata karena kepergianku.

Sekuat tenaga kupaksa naluri ini untuk menikmati ritme kehidupan. Bersama kerabat baru, kulukiskan setiap tawa yang ada, mencoba mengubur dalam-dalam akan sisa-sisa perihnya perasaan tak nyaman.

Termasuk keharusanku ikut shift malam, dengan jam kerja yang sangat tidak normal, jam 24.00 s/d 08.00 WIB, disaat semua orang sedang masyuk merangkai mimpi, aku harus rela terbangun, terkantuk-kantuk mengawali aktivitas di dinginnya malam dan ruangan ber-AC.

22 November 2005

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Entah bagaimana mulanya, aku hanya ingat kami berkenalan, berbincang sejenak kala istirahat. Dan pada tanggal yang cantik ini ikatan kami terjalin.

Pertengahan tahun 2006

Derasnya tekanan dan pengaruh idealis jiwa muda membuatku menjadi pribadi yang berbeda. Dalam ruang proses aku seakan dituntut memiliki hati setebal tembok.

Kehadiran seseorang tak jua mampu membendung keinginanku untuk berontak. Ditahun kedua, aku mulai bergerak. Sejumlah tes kerja di pulau Jawa kujalani, kukorbankan semua yang kumiliki, waktu, uang, juga kesehatan.

Hingga aku lelah dan mulai menyerah. Seperti tak pernah habis rasa teraduk. Bahagia sekejab, lalu kesedihan tergores kembali.

*****

Keteguhanku kian tersayat hari itu, menghadapi situasi yang berprilaku diluar batas kewajaran. Membuatku nyaris nekat angkat koper, kalau saja tak ada segenggam cahaya yang dinyalakannya untukku. Menyadarkanku bahwa inilah kehidupan sebenarnya.

Kembali kutentramkan jiwa, demi percikan api-api pengobar semangat, demi tetesan embun-embun penyegar raga, dan demi lembaran ayat-ayat pemuas tanya, darinya, seseorang yang telah menitipkan hati untukku.

22 November 2011

Keegoisan membutakanku, hanya memikirkan diri sendiri, tak sadar bahwa aku begitu dicintai, tak paham bahwa saat itu, apa yang ada adalah baik untukku menurutNya...

Kini, aku sudah meninggalkan bratasena. Dan aku ingin berterimakasih karena telah mewujudkan mimpiku dengan ’cenderamata’ berharga yang ditanamkannya dalam relung ini, senyum dan tangisan kami lewati bersama, doakan, semoga cinta kami semakin bertambah dan tumbuh hingga maut memisahkan, amin.

*****

Untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan terkadang kita harus melewati masa2 sulit terlebih dahulu, jauh dari segala kemudahan yang diinginkan, tapi yakinlah bahwa telah banyak rencana-rencana bahagia yang sudah ditetapkanNya untuk kita...........

Blega, 6 tahun setelah hari di tanggal cantik itu